Cara Mengatasi Kegagalan Bisnis, Calon Pengusaha Wajib Baca!

Kegagalan dalam dunia bisnis itu hanya istilah saja, anggap ringan saja apa itu yang dinamakan kegagalan. Tetap termotivasi dan simak artikel dibawah ini….

KEGAGALAN ITU “TIDAK ADA”

KESUKSESAN adalah METAMORFOSIS dari serangkaian KEGAGALAN yang terus-menerus diperbaiki.

Seekor kupu-kupu yang ingin melakukan perubahan harus menelurkan ide-idenya, yang kemudian ia letakkan di tempat yang tepat sehingga mendapatkan makanan yang cukup untuk berusaha ber”evolusi diri” menjadi ulat yang siap mengatasi rasa takut, lapar, tidak adanya support dari induknya, dan berada di dalam kepompong. Setelah mengalami masa-masa sulit, kini tiba saat- nya ia menjadi kupu-kupu muda, yang siap menuai hasilnya.

Kata “gagal” berasal dari dua suku kata, yaitu “ga” dan “gal”, yang merupakan kependekan dari “gambar yang terpenggal”. Jika Anda menemui jalan buntu, tetapi bisa Anda lalui, maka itu berarti bahwa Anda tidak gagal. Namun, jika Anda mengalami suatu langkah yang terhenti sehingga Anda tidak mengetahui apa yang harus Anda lakukan, di mana kemudian Anda berhenti mencoba lagi, maka Anda sudah mengalami kegagalan yang sebenarnya.

Ada tiga faktor kegagalan, antara lain:

  1. Diciptakan oleh diri sendiri (bersumber dari pikiran dan persepsi Anda saja)
  2. Dipaksa gagal oleh orang atau pihak lain, misalnya dijegal, ditabrak, diserang, dihabisi, atau dimatikan
  3. Dipaksa gagal oleh alam (di luar kendali kita), misalnya musibah, bencana alam, tsunami, gempa, air bah, banjir, atau kemarau panjang

Sebagian besar kegagalan dalam bisnis adalah “kesalahan manajemen”, sedikit yang karena mengalami ketidakberuntungan, misalnya:

  • Tidak menghitung akibat keterlambatan bayar sehingga kesulitan cash flow, yang membuat kinerja terhambat dan berhenti.
  • Kekurangan modal, akibat tidak mengetahui bahwa bisnis di sektor tersebut membutuhkan modal yang besar (uang dan investasi).
  • Bisnis tersebut tidak sesuai dengan personality Anda. Sebagai contoh, Anda mempunyai kelemahan di dalam komunikasi, tetapi Anda tidak merekrut tenaga marketing atau sales yang handal untuk menutupi kelemahan usaha Anda yang baru dirintis itu. Anda lebih memilih untuk terus mamaksa diri Anda terjun seorang diri.
  • Rekan bisnis Anda tidak jujur atau tidak komitmen.
  • Tidak ada penjualan sama sekali (no selling, no transaction and no cash in flow).
  • Tidak dirancang terlebih dahulu, sehingga pada saat tertentu Anda mengalami kerugian yang besar atau sangat besar.
  • Ada penjualan, tetapi sedikit kontribusinya karena cost yang terlalu tinggi tidak segera diperbaiki.
  • Ada penjualan yang tinggi, tetapi dibarengi dengan investasi yang lebih tinggi, dan juga adanya kredit macet yang cukup besar tidak ada waktu untuk memperbaiki.
  • Ada masalah-masalah “legal” seperti klaim besar, salah mengerti dan mengantisipasi (aspek legal) yang memaksa bisnis Anda ditutup.
  • Ada kontribusi, tetapi banyak pengeluaran yang tinggi yang seharusnya tidak perlu dan tidak terkontrol.
  • Mutu produk jauh di bawah rata-rata kualitas yang standar untuk bersaing di pasar (tidak ada pembeli).
  • Kurangnya kemampuan leadership, sehingga karyawan sering keluar masuk (high turn over), kesalahan terus terjadi.
  • Motivasi karyawan tidak ada, dan gaya kepemimpinan Anda “bossy”.
  • Adanya hubungan “romantis” di tempat kerja yang membuat Anda tidak fokus pada bisnisnya.
  • Banyaknya pelanggan yang tidak puas dan pelayanan staf (khususnya sales force) Anda sangat buruk.
  • Skill SDM Anda tidak memadai untuk mewujudkan standar operasional yang baik atau berkualitas.
  • Perdebatan dengan klien sering terjadi oleh staf Anda saat Anda sedang merintis bisnis, sehingga banyak yang meninggalkannya.
  • Adanya nepotisme yang membuat situasi kerja tidak nyaman bagi staf Anda.
  • Munculnya pesaing yang kredibel, kompeten, dan mem- punyai banyak kelebihan secara tiba-tiba, di mana bisnis Anda juga sedang tumbuh.
  • Bisnis tumbuh besar karena “blow up” atau tidak solid dan kondusif, sehingga saat keberuntungan tidak berpihak, maka bisnis langsung “drop”.

Namun, bila kita menelusuri arti kegagalan, maka sebenarnya “kegagalan itu tidak ada sama sekali”. Yang ada ialah bahwa:

  • Anda berhenti mencoba (diam dan merenung).
  • Anda tidak ingin melanjutkan lagi, tetapi beralih kepada yang lainnya yang bisa Anda kerjakan.
  • Anda tidak siap menerima kejadian atau akibat yang terjadidan memikirkan hal tersebut terus-menerus (frustrasi atau putus asa).
  • Anda tidak mampu mengatasi langkah berikutnya, atau kaget dengan apa yang terjadi lalu bingung bagaimana melanjutkannya lagi.
  • Persepsi Anda yang tidak sama dengan orang lain akan suatu kejadian.

Yang pasti, nilai dari sebuah kegagalan demi kegagalan itu mahal harganya, dibandingkan dengan nilai dari keberhasilan, karena kegagalan telah terbukti banyak membuat orang sukses dan berhasil.

Bicara tentang kegagalan, dari mana sumbernya?

Kegagalan Itu Ada Karena Persepsi Anda yang Keliru

Kita sering salah kaprah di dalam menyebut suatu situasi atau kejadian yang kita alami dengan menyebut kata “gagal” atau “fail”. Bila kita melihat suatu kejadian, bisa saja persepsi kita akan kejadian itu ialah kegagalan, atau bisa juga cobaan, tantangan, atau bahkan hal tersebut adalah sudah biasa terjadi. Misalnya kita terpeleset, dan kejadian itu membuat pakaian kita kotor sehingga malu untuk bertemu dengan orang lain. Persepsi rasa malu bertemu seseorang inilah yang menyebabkan kita gagal melanjutkan apa yang telah atau sedang kita kerjakan. Namun, hal ini tidak berlaku bagi orang yang berpikir kreatif. Bisa saja ia meminjam pakaian temannya terlebih dahulu, atau membersihkan dahulu pakaiannya, atau cara apa pun yang lain, asalkan ia bisa bertemu dengan orang tersebut. Jadi, orang yang pertama, yang merasa malu tadi, bisa menyatakan bahwa dirinya gagal, sedangkan yang kreatif berhasil. Nah, hal inilah yang sering kita sebut “salah persepsi”.

Contoh lainnya ialah bahwa bagi seseorang pada suatu transaksi, rugi di dalam bisnis itu mungkin wajar, tetapi bagi orang lain, hal itu bisa mengakibatkan “stres”, sehingga ia berhenti melanjutkan bisnis itu dan mengalami kegagalan dalam bisnis.

Jadi, kegagalan seseorang dibentuk oleh persepsi atau pemikiran orang akan suatu kejadian yang dialaminya. Ia bisa menganggapnya sebuah tantangan, cobaan, salah arah, salah jalan, belum siap, tidak mampu, atau gagal. Nah, sekarang menurut Anda yang mana?

Entreprenerial Process Change Your Mindset and Paradigm.